Jakarta, Inspirasinews.co.id – Kolesterol tinggi sering disebut sebagai "silent killer" karena kerap tidak menunjukkan gejala awal yang jelas. Namun, pada sebagian wanita, kondisi ini bisa memunculkan tanda-tanda yang patut diwaspadai. Jika dibiarkan, kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Kolesterol tinggi terjadi ketika kadar kolesterol dalam darah melebihi ambang normal, yakni di atas 200 mg/dL. Kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh faktor keturunan, namun juga dipicu oleh gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi makanan berlemak, kurang olahraga, merokok, serta kurang tidur.
“Kolesterol tinggi tidak selalu menimbulkan gejala yang khas, tetapi beberapa keluhan seperti mudah lelah, nyeri leher, atau kesemutan, sebaiknya tidak diabaikan, terutama bila disertai riwayat keluarga,” ujar dr. Meidy Rosalina, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam dari RSUP Persahabatan Jakarta, saat dihubungi pada Minggu (1/6/2025).
Berikut beberapa ciri kolesterol tinggi yang umum dialami wanita:
-
Sering merasa lelah
Plak kolesterol yang menyumbat pembuluh darah dapat menghambat pasokan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh, membuat tubuh cepat lelah meski sudah cukup istirahat. -
Sesak napas
Jika pembuluh darah menuju jantung tersumbat, jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Akibatnya, muncul keluhan sesak napas. -
Nyeri pada leher
Gangguan aliran darah menuju leher karena kolesterol yang menumpuk dapat menyebabkan rasa sakit atau nyeri di sekitar leher. -
Kesemutan pada tangan dan kaki
Penurunan aliran darah di ujung saraf akibat plak kolesterol dapat menimbulkan kesemutan, terutama saat duduk terlalu lama atau setelah beraktivitas fisik. -
Bercak kuning di kelopak mata
Xanthelasma, bercak kekuningan di sekitar mata, bisa menjadi tanda kolesterol tinggi. Kondisi ini juga berkaitan dengan gangguan metabolik lain seperti diabetes dan hipotiroid.
dr. Meidy menambahkan, wanita sebaiknya mulai rutin melakukan pemeriksaan kadar kolesterol sejak usia 35 tahun. "Untuk wanita di atas 55 tahun, sebaiknya cek kolesterol dilakukan setiap satu hingga dua tahun sekali," katanya.
Penanganan dan Pencegahan
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kolesterol tinggi, dokter biasanya akan meresepkan obat penurun kolesterol seperti statin. Namun, pengobatan medis harus diimbangi dengan perubahan gaya hidup.
“Statin memang efektif, tetapi perubahan pola makan dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama. Jangan hanya mengandalkan obat,” ujar dr. Meidy.
Beberapa pola hidup yang disarankan meliputi:
-
Mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah lemak jenuh
-
Rutin berolahraga minimal 30 menit sehari
-
Menjaga berat badan tetap ideal
-
Menghindari rokok dan minuman beralkohol
-
Cukup tidur dan mengelola stres
Kolesterol tinggi memang cenderung tanpa gejala, namun pemeriksaan rutin dan pola hidup sehat adalah langkah terbaik untuk pencegahan.
Pewarta: Syafri Yantoni
Editor : Desty Dwi Fitria
COPYRIGHT © INSPIRASINEWS 2025

