Bengkulu, Inspirasinews.co.id — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menekankan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama maupun sesama umat beragama menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Nyepi 2026, terutama di wilayah Provinsi Bengkulu yang memiliki masyarakat heterogen.
Dalam kegiatan tersebut, FKUB menilai Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman agama dan keyakinan.
Perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan, misalnya, dinilai sebagai hal yang kerap muncul di tengah masyarakat. Namun, perbedaan tersebut selama ini dapat dikelola dengan baik tanpa menimbulkan konflik.
“Perbedaan penentuan awal Ramadhan merupakan hal yang biasa terjadi, dan dapat disikapi dengan bijak melalui kebijakan pemerintah serta sikap saling menghormati di tengah masyarakat,” ujar perwakilan FKUB dalam keterangannya.
FKUB menegaskan bahwa toleransi tidak hanya diperlukan antarumat beragama, tetapi juga di internal umat beragama, mengingat potensi perbedaan pandangan dapat berkembang menjadi isu sensitif jika tidak dikelola dengan baik.
Selain itu, perbedaan keyakinan dinilai rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memicu konflik sosial maupun politisasi SARA. Karena itu, peran tokoh agama dinilai sangat strategis dalam menjaga stabilitas dan ketertiban di masyarakat.
“Para tokoh agama memiliki pengaruh besar dalam menjaga situasi tetap kondusif, sehingga diharapkan mampu meredam potensi konflik di tengah masyarakat,” kata FKUB.
Di Provinsi Bengkulu, FKUB menyoroti masih terbatasnya figur tokoh sentral di luar pemerintahan yang dapat menjadi rujukan masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial. Kondisi ini membuat peran kepala daerah dan unsur legislatif menjadi sangat penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Kabupaten Rejang Lebong disebut sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keberagaman suku dan agama yang tinggi. Letaknya yang berbatasan dengan berbagai wilayah menjadikan daerah tersebut dihuni oleh beragam kelompok etnis dan agama, termasuk komunitas Hindu di Kecamatan Suro serta umat Nasrani di Kecamatan Sindang Dataran.
Menurut FKUB, keberagaman tersebut menjadi potensi sekaligus tantangan yang harus dikelola dengan baik agar tidak berkembang menjadi gangguan keamanan.
“Keterlibatan tokoh pemerintah dan tokoh masyarakat sangat penting untuk menjaga situasi tetap aman dan kondusif, khususnya selama Ramadhan, Idul Fitri, dan Nyepi,” ujar FKUB.
Melalui penguatan peran tokoh lintas agama dan pemerintah daerah, diharapkan stabilitas sosial di Bengkulu tetap terjaga serta kehidupan masyarakat berlangsung harmonis di tengah perbedaan.

